Posts

Tak Pernah Penuh Maupun Kosong

Begitu ringan dulunya, hingga dalam tas keranjang belanja bak persembunyian Ratusan meter ditentengnya Kadang berganti dari kanan ke kiri Tak terasa hingga tiap pagi selalu berpisah Walau sore selalu waktu yang pas untuk bertemu Selalu bosan yang kadang memenuhi Padahal itu tak akan pernah terulang lagi Lebih dari sedekade kita tak bersama Sudah terlalu jauh kaki ini melangkah Sudah penuh yang telah kau berikan Walau pasti kau selalu merasa kantongmu masih penuh Baru sekang diriku bergumam- Apakah semenjak menjadi pahlawan dirinya tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri? Dalam setiap perbincangan selalu ada yang dikhawatirkannya dan entah mengapa tak pernah benar-benar kutenangkan Dalam kondisi menyapa saja sulit baginya Aku begitu jauh darinya Hanya diirku yang remaja dulu menjadi temannya Saat pundak ini mulai siap untuk menggandengnya hanya kedipan mata yang selalu diberikannya Bungsunya yang sudah sewindu tak bersamanya yang tiba-tiba telah sangat besar pastilah sangat dirindukann...

Sang Peniup Suling

  Berita ini sudah menyebar jauh melintasi cakrawala Tak terbendung tak tertahan, bahkan hati paling kecil pun sudah sadar akan semuanya Seorang bedebah yang diselimuti sempurna dengan keparat Bercanda walau dengan yakin bahwa dialah penyanyi utamanya Pernah dulu bertanya mengapa dia begitu keras ketika berkata? Mengapa dia harus selalu didengar? Kenapa dia bertindak seperti itu? Siapa yang selalu salah di depan matanya? Apa yang dipikirkannya ketika menggelegar seperti itu? Apakah dia pernah berpikir efek dari durjananya itu? Bagaimana dia menjadi seperti itu? Atau apakah seluruh karat sudah membuatnya menjadi seorang pemain suling? Mata ke mata pasti akan selalu bersua Padam yang terlihat dalam kilat hitam berpantulkan cahaya remang Kesana kemari membusungkan dada yang paling hebat Seolah akan membesar semua kebanggan mu itu Tujuh puluh sembilan tak kurang dan tak lebih Kata orang “apakah dengan mengabaikan saja akan membuatmu tidak menjadi bedebah berikutnya?” Entahlah tapi berd...

Tentang kekurangan dan semuanya

Memilih diam daripada memastikan Mengecutkan wajah lebih baik bagimu daripada menggerakkan bibir untuk bertanya Memang pengecut dirimu, tak sebanding apa yang dikatakan Berani sangat untuk menebas, tapi gemetar saat mengasah bilahnya   Pengecut tak pernah berani memperjuangkan apapun Mungkin semuanya hanya mainan bagimu Yang tak berarti dan hanya menemani dalam bosan yang selalu bersamamu Dan apakah ini menjadi sebuah tanda, bahwa Semua orang akan mati layu ketika di dekatmu?   Pembisu saat berbicara saja tidak berani Tapi diam bagaikan siput dan putri malu tapi berani meracuni dan menusuk Tak sedikitpun engkau berani untuk meminta maaf Bahkan sadar saja sepertinya sangat jauh dari dirimu   Pendengung yang tak berkesudahan selalu bermuara padamu Kau selalu benar, sedangkan orang engkau putar dalam sebuah penentu kesalahan Entah apa yang kau rasakan, tapi engkau memilih diam Tapi, apakah memang benar bahwa cemburu tanda cinta? Apakah...

Nyata Jilid I

Selama 6 tahun lebih kita berjalan jauh,  Kecil benar betisnya, hingga kita tak pernah membayangkan bahwa kita sudah melewatinya. Dalam jalan berbatu yang siap menunjam ke dalam kaki Yang selalu nyeri saat kita terbirit-biri berlari. Pernah dulu dahaga selalu menemani kita, Juga bersama pedih yang kian menusuk di dasar pusar Bimbang dalam berkata, tapi peluh yang membasuh Sirna sekilas saat kita sudah lari di jalan setapak Bersambung.....