Tentang kekurangan dan semuanya
Memilih diam daripada memastikan
Mengecutkan wajah lebih baik bagimu daripada menggerakkan
bibir untuk bertanya
Memang pengecut dirimu, tak sebanding apa yang dikatakan
Berani sangat untuk menebas, tapi gemetar saat mengasah
bilahnya
Pengecut tak pernah berani memperjuangkan apapun
Mungkin semuanya hanya mainan bagimu
Yang tak berarti dan hanya menemani dalam bosan yang selalu
bersamamu
Dan apakah ini menjadi sebuah tanda, bahwa
Semua orang akan mati layu ketika di dekatmu?
Pembisu saat berbicara saja tidak berani
Tapi diam bagaikan siput dan putri malu tapi berani meracuni
dan menusuk
Tak sedikitpun engkau berani untuk meminta maaf
Bahkan sadar saja sepertinya sangat jauh dari dirimu
Pendengung yang tak berkesudahan selalu bermuara padamu
Kau selalu benar, sedangkan orang engkau putar dalam sebuah
penentu kesalahan
Entah apa yang kau rasakan, tapi engkau memilih diam
Tapi, apakah memang benar bahwa cemburu tanda cinta?
Apakah benar bahwa marah tanda sayang?
Penumpul dan pemukul
Yang tak bergimik pada kesalahan yang lama dia perbuat
Yang berani membunuh orang secara perlahan
Yang diam bak permata, walau onggokan pasir yang selalu kau banggakan
Bergiming walau sendu, musnah lemah ditelan nestapa
Comments
Post a Comment