Sang Peniup Suling
Berita ini sudah menyebar jauh melintasi cakrawala
Tak terbendung tak tertahan, bahkan hati paling kecil pun sudah sadar akan semuanya
Seorang bedebah yang diselimuti sempurna dengan keparat
Bercanda walau dengan yakin bahwa dialah penyanyi utamanya
Pernah dulu bertanya mengapa dia begitu keras ketika berkata?
Mengapa dia harus selalu didengar?
Kenapa dia bertindak seperti itu?
Siapa yang selalu salah di depan matanya?
Apa yang dipikirkannya ketika menggelegar seperti itu?
Apakah dia pernah berpikir efek dari durjananya itu?
Bagaimana dia menjadi seperti itu?
Atau apakah seluruh karat sudah membuatnya menjadi seorang pemain suling?
Mata ke mata pasti akan selalu bersua
Padam yang terlihat dalam kilat hitam berpantulkan cahaya remang
Kesana kemari membusungkan dada yang paling hebat
Seolah akan membesar semua kebanggan mu itu
Tujuh puluh sembilan tak kurang dan tak lebih
Kata orang “apakah dengan mengabaikan saja akan membuatmu tidak menjadi bedebah berikutnya?”
Entahlah tapi berdiam diri di dalam tenda sampah akan menjadi bau busuk
Walau parfum Dior 40 Liter mengalir tiap hari di antara sekatnya
Tentu saja, dia akan selalu berkuasa, dan akan selalu berkuasa
Dari cara dia memperlakukan orang sudah terlihat betapa bedebahnya dirinya
Yang berpijak seolah tongkat menyangga lengannya
Dan pijakan yang mengangkat kaki kirinya sehasta lebih tinggi
Tapi durjana berkelibat di dalam hatinya
Hingga padam akan menjemput
Walau sadar sepertinya masih jauh dari tidak menjadi bualan
Dan kita sama-sama berdua bedebah
Comments
Post a Comment